oleh

Komisi II DPRD Seluma Kunker ke Balai Sumatera Wilayah VII Provinsi Bengkulu

MediaBengkulu.co Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Seluma Melakukan  Kunjungan Kerja (Kunker) ke Balai Sumatera Wilayah VII Provinsi Bengkulu.Jumat (24/1/2020).

Kunjungan Kerja (kunker) ini  terkait Aspirasi Masyarakat mengenai Bendungan Seluma. Jumat (24/1/2020) Kesepakatan bersama tgl 27 Januari 2020 Air akan dialirkan.

Seperti diberitakan sebelum nua Gejolak ancaman kekeringan dengan penutupan saluran irigasi Bendung Seluma sejak 1 Agustus  2019 hingga Sekarang  mulai mencuat. Hal itu ditandai dengan kedatangan 6 orang perwakilan petani yang mendatangi DPRD Seluma pada Kamis (8/8/2019) pagi yang berorasi dan membawa spanduk karung goni bertuliskan protes.

”  Petani meminta DPRD untuk memfasilitasi keluhan kepada pihak Balai Sumatera VII untuk membuka bendungan selama 6 minggu”  sampai Samsir Ardi (58), salah seorang petani pengguna saluran irigasi, Kamis (7/8).

Petani juga mendesak anggota DPRD Seluma jangan hanya datang duduk dan diam saja, tanpa mau memperjuangkan aspirasi masyarakat.

” Giliran mau nyalon berjanji memperjuangkan masyarakat,” katanya.

Selain memasuki musim kemarau, ratusan hektar tanaman padi petani terancam gagal tanam.

” Ini bagian dari menyengsarakan petani. Harusnya tidak dilakukan pengeringan global,namun dapat dilakukan secara bergantian. Contohnya, siapkan dulu material bangunan, dan aliran air dapat di hidup matikan secara bergantian, tidak langsung dimatikan secara total,” kata Bustan Dali, pengguna air irigasi.

Ia mengatakan, tidak hanya mengancam sawah petani, kebijakan pihak balai sumatera VII juga merugikan pemilik ternak ikan.

” Tanaman cabai saya terancam rugi puluhan juta rupiah.Modal tanam saya saja sudah hampir sekitar Rp 50 juta,” kata dia.

Petani gabungan Kecamatan Seluma Selatan (SS), mengancam akan menggelar aksi demonstrasi dengan mengerahkan massa dalam jumlah besar ke DPRD Seluma juga Kantor Bupati Seluma. Aksi demontrasi ini lantaran proyek rehab irigasi Bendung Air Seluma, mangkrak. Menurut kontrak kerja seharusnya rehab irigasi ini selesai Desember 2019 lalu. Namun kenyataanya memasuki minggu kedua Januari 2020, proyek tersebut belum juga selesai, sehingga belum dapat difungsikan. Bahkan rencananya akan kembali dilakukan perpanjangan waktu pengerjaannya.

“Dampak belum kelarnya pekerjaan rehab irigasi ini, kami para petani tidak dapat mengelola sawah kami ini. Padahal saat ini sudah memasuki persiapan musim tanam,” jelas Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Seluma Selatan, Yahudin, saat menggelar rapat bersama petani se Kecamatan Seluma Selatan, Minggu (5/1).

Rapat yang digelar pukul 10.00 WIB di Sekretariat P3A Desa Padang Merbau Kecamatan Seluma Selatan, membahas rencana aksi demonstrasi tersebut. Dalam rapat, semua sepakat dan menyetujui untuk menggelar aksi ini Rabu (8/1). Yahudin menegaskan dalam aksi ini 61 kelompok tani ini dipastikan akan ikut. Untuk menyatakan protes terhadap pihak pelaksana pekerjaan maupun pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VII Bengkulu. Atas proyek rehab irigasi Bendung Air Seluma yang dinilai sudah menyengsarakan petani ini.

“Ini urusan perut pak, lihat saja waktu pekerjaan sudah lewat, tapi material seperti besi, semen dan alat bangunan masih numpuk tak dikerjakan. Makanya kami sepakat mau menyampaikan aspirasi biar kami rakyat kecil jangan selalu disepelekan,” kata Yahudin.

Yahudin mengatakan dengan belum selesainya rehab irigasi ini, dipastikan 4 ribu hektare sawah milik petani di Kecamatan Seluma Selatan belum dapat digarap. Ini juga akan berimbas bagi petani di Kecamatan Seluma Timur dan Seluma Barat yang juga memanfaatkan irigasi Air Seluma ini untuk mengairi sawahnya.

“Kalau sawah kami ini tidak dapat digarap lagi, kami mau makan apa. Satu-satunya sumber penghasilan kami ini cuma sawah inilah. Jadi kami benar tergantung dengan irigasi ini,” ucap Yahudin.

Aksi ini untuk meminta pihak eksekutif dan legislatif mempertanyakan pembangunan proyek rehab irigasi Air Seluma ini ke pihak BWSS VII Bengkulu. Agar ada jalan keluar terhadap keluhan petani yang menggantungkan hidup dengan bersawah ini.

“Selama ini pihak eksekutif dan legislatif ini hanya diam tidak peduli sedikitpun dengan nasib kami. Mungkin dengan aksi yang akan kami gelar inilah, mereka akan bangun dari tidurnya. Peduli dengan nasib petani yang menggantungkan hidup di sawah ini,” sampai Yahudin.

Untuk diketahui proyek rehab irigasi Sungai Air Seluma ini sesuai kontrak dikerjakan selama 240 hari, dengan masa pemeliharaan 180 hari di tahun anggaran 2019 lalu. Sebagai kontraktor pelaksana PT. Adhityamulya Mitra Sejajar dengan nilai kontrak mencapai Rp 17, 6 miliar yang bersumber dari APBN 2019 dari Satker BWSS VII Bengkulu.(prw)

Berikut Rangkuman Kegiatan Kunker :

 

Komentar

BERITA LAINNYA